Sabtu, 10 Mei 2014

5 Tips menjaga kesehatan gigi anak

Pembusukan gigi sering kita temui pada anak-anak usia 6-11 tahun, dan remaja usia 12-19 tahun. Maka dari itu merawat gigi menjadi faktor yang sangat penting untuk di lakukan setiap hari. Berikut ini 5 Tips menjaga kesehatan gigi anak : 1. Mulailah merawat gigi anak sedini mungkin Untuk menjaga kesehatan gigi anak, sebaiknya mulailah memeriksakan kesehatan gigi anak sejak usia 1 tahun. 2. Ajarkan kebiasaan menyikat gigi Mulailah menyikat gigi anak anda bahkan sejak pertama gigi nya mulai tumbuh,sikatlah gigi anak anda dengan sikat gigi bayi yang lembut dan gunakanlah pasta gigi yang mengandung flouride. Lakukan hal tersebut 2 kali sehari. Waktu menyikat gigi yang paling penting adalah ketika malam hari sebelum tidur. Kemudian jangan berikan makanan atau minuman apapun pada anak selain air putih setelah menyikat gigi. Hal ini dapat membantu tetap bersih dan memulai proses mineralisasi selama tidur melalui berbagai mineral di air liur. Tips Menjaga Kesehatan anak 3. Hindari makanan atau minuman manis sebelum tidur Jangan berikan anak anda susu atau jus buah sebelum tidur siang karena hal ini dapat menempel pada gigi anak, yang merupakan sumber makanan bagi bakteri yang hidup dalam mulut. Ini yang dapat membahayakan dan memicu terjadinya pembusukan pada gigi anak. Pembusukan gigi atau gangguan kesehatan gigi pada anak jika tidak segera di tangani maka akan mempengaruhi tumbuh kembang anak. Jika anak anda tidak dapat tidur tanpa meminum sesuatu maka cobalah berikan air putih. 4. Jangan menggunakan “dot” terlalu lama Penggunaan dot yang terlalu lama akan membahayakan kesehatan gigi anak, menyedotnya terlalu kuat juga dapat mempengaruhi susunan gigi atas dan bawah anak. Bahkan dapat mempengaruhi bentuk mulut anak. Gunakanlah dot pada masi bayi dan hentikan penggunaannya ketika anak anda sudah berusia 2 tahun. Jika anak anda masih mempunyai kebiasaan mengendot ketika sudah berusia 3 tahun maka segeralah hubungi dokter. 5. Bersikaplah Tegas Walaupun mungkin banyak sekali tantangan yang harus anda hadapi ketika mengajarkan anak untuk menyikat gigi, anak sering rewel dll, anda harus tetap membiasakan kebiasaan menyikat gigi ini demi untuk menjaga kesehatan gigi anak anda. - See more at: http://kesehatangizianak.com/5-tips-menjaga-kesehatan-gigi-anak/#sthash.22TknL41.dpuf

Inilah Beberapa penyebab balita tidak mau mengunyah makanan

Seperti yang kita ketahui tidak sedikit anak yang mengalami masalah dalam mengunyah makanan. Hal seperti ini untuk jangka panjang mungkin akan mengakibatkan masalah yang besar seperi kekurangan gizi pada anak. Maka dari itu makanan balita juga sangat penting untuk di perhatikan agar anak mau mengunyah makanannya. Sebagai orang tua tentunya kita paham tentang kondisi anak, apakah anak malas mengunyah atau tidak bisa mengunyah. Umumnya anak usia 1 tahun keatas sudah bisa di perkenalkan dengan makanan keluarga. Sudah pasti balita akan mulai berkenalan dengan makanan yang lembut dan bervariasi. Pada usia ini umumnya anak sudah mempunyai keterampilan untuk mengunyah. Apabila balita kita masih malas mengunyah karena hal tertentu, bisa jadi karena beberapa hal berikut ini : - Terlalu asyik dengan mainan atau aktivitasnya Orang tua bisa mencoba memeberikan makanan untuk balita sambil tidak dibarengi dengan aktivitas favoritnya dan perhatikan apakah ada perubahannya dalam mengunyah makanannya atau tidak. - Protes karena kenyang atau bosen dengan makanannya Jika karena faktor ini orang tua bisa mengatur waktu makan dan porsi yang tepat untuk di sajikan bagi balitanya. Ketika anak sudah terlihat bosan, anda bisa berhenti dahulu sejenak kemudia nanti anda lanjutkan. makan balita - Trauma karena “dipaksa” makan Mungkin anda jangan terlalu memakasakan ketika anak sudah tidak mau makan. Anda bisa ciptakan suasana “waktu makan adalah waktu yang menyenangkan”. - Belum pernah praktek langsung tentang cara mengunyah Apabila orang tua belum pernah memperlihatkan secara langsung cara mengunyah, maka inilah saatnya orang tua makan bersama anak. Ajarkan cara mengunyah yang baik dan perlihatkan mimik wajah yang menarik agar balita tertarik merasakan sensasi yang sama. Pahami “bahasa” balita anda dalam hal ini adalah kemauannya untuk mengunyah. Balita akan sangat cepat dalam belajar dan amat pandai dalam meniru, maka dari itu ajarkan balita anda hal – hal yang baik, seperti bagaimana cara mengunyah makanan yang baik dan benar. - See more at: http://kesehatangizianak.com/inilah-beberapa-penyebab-balita-tidak-mau-mengunyah-makanan/#sthash.MdOBiA9D.dpuf

Beberapa Jenis Gangguan Perkembangan Pada Anak

Seorang anak yang berada dalam masa pertumbuhan secara tidak langsung akan mengalami beberapa gangguan yang menghambat perkembangannya, karena kecepatan pertumbuhan dan perkembangan setiap anak dapat berbeda. Akan tetapi ada patokan khusus yang dijadikan standar dalam perkembangan anak. Maka dari itu kita sebagai orang tua diharuskan agar lebih peka terhadap berbagai gangguan yang dialami oleh anak, misalnya dengan cara menstimulasi (meningkatkan respon anak). Ada beberapa gangguan perkembangan anak diantaranya sebagai berikut: Gangguan terlambat dalam berbicara Kemampuan berbicara seorang anak sangatlah sensitif terhadap kerusakan pada sistem lainnya karena gangguan keterlambatan dalam berbicara dapat melibatkan kemampuan kognitif, motorik, emosi dan psikologis. Gangguan berbicara ini dapat menetap karena kurangnya stimulasi/meningkatkan respon anak. Gangguan dalam kebiasaan-kebiasaan anak Gangguan jenis ini biasaanya dilakukan seorang anak ketika mengalami stres. Sebagai contohnya misalnya kebiasaan seorang anak menggigit kuku, memukul dirinya sendiri, menggoyangkan tubuhnya, mengisap ibu jari mereka, bahkan sampai membenturkan kepala mereka sendiri. gangguan perkembangan anak Gangguan emosi Gangguan emosi ini berhubungan dengan perasaan seorang anak. Contoh gangguan emosi pada anak misalnya anak mulai keras kepala, anak mudah sekali marah-marah, sulit sekali untuk diatur, dan anak seringkali berteriak-teriak sesuai kehendak mereka. Gangguan ketika tidur Ketika malam menjelang maka ada beberapa gangguan yang sering dialami seorang anak, diantaranya gangguan ketika anak sedang tidur. Gangguan-gangguan seperti ini mungkin sering dialami oleh anak-anak lain seperti sering mengigau, ketika tidur anak sering sekali membolak-balikkan badannya, tiba-tiba duduk lalu tertidur kembali, tertawa, berteriak, mimpi buruk, bahkan beradu gigi ketika anak tertidur. Gangguan berbadan pendek Gangguan ini berhubungan dengan tinggi badan seorang anak. Gangguan berbadan pendek terjadi disebabkan karena gangguan gizi, kelainan pada kromosom, atau karena kelainan endoktrin. Gangguan pada kecemasan Gangguan kecemasan atau ketakutan normal terjadi ketika anak berada dalam masa perkembangan, akan tetapi apabila berkelanjutan dalam jangka waktu yang lama, maka memungkinkan dapat melumpuhkan kondisi sosial anak tersebut. Gangguan pada kecemasaan ini dapat dikelola dengan cara mengobati kejiwaan anak misalnya terapi keluarga. - See more at: http://kesehatangizianak.com/beberapa-jenis-gangguan-perkembangan-pada-anak/#sthash.IEVR7h4O.dpuf

Kamis, 01 Mei 2014

Fase-Fase Perkembangan Anak Usia Dini

Anak usia 0-2 tahun Secara umum pada masa bayi anak usia 0-2 tahun, seorang anak mengalami perubahan yang pesat bila dibandingkan dengan yang akan dialami pada fase-fase berikutnya. Pada fase ini anak sudah memiliki kemampuan dan keterampilan dasar, di antaranya : keterampilan lokomotor (berguling), merangkak, duduk, berdiri, & berjalan), penginderaan (mencium ,melihat, mendengar dan merasakan sentuhan), keterampilan memegang benda ,maupun kemampuan untuk mereaksi secara emosional dan sosial terhadap orang-orang sekelilingnya. Fase perkembangan anak usia dini ini terjadi pada anak usia 0-6 tahun atau sampai anak mengikuti pendidikan pada jenjang pendidikan anak usia dini atau prasekolah. Di masa ini terjadi pertumbuhan fisik dan psikis yang sangat pesat. Ada gerakan-gerakan yang mengkomunikasikan suasana emosinya, seperti cemas, marah, tidak setuju dan lain-lain. Anak usia 2-3 tahun Pada fase ini anak sudah memiliki kemampuan untuk berjalan dan berlari. Dan juga anak mulai senang memanjat, meloncat, serta menaiki sesuatu dan lain sebagainya. Solehuddin (1997: 38) berpendapat bahwa pada anak usia 2-3 tahun lazimnya sangat aktif mengeksplorasi benda-benda di sekitarnya. Seorang anak memiliki kekuatan observasi yang tajam. Kemudian anak juga menyerap dan membuat perbendaharaan bahasa baru bagi mereka, mulai belajar tentang jumlah (berhitung), membedakan antara konsep satu dengan banyak dan senang mendengarkan cerita-cerita sederhana, kesemuanya itu diwujudkan anak dalam aktivitas bermain maupun komunikasi dengan orang lain di sekitarnya. Kemampuan anak menguasi beberapa patah kata juga mulai berkembang. Antara lain, Anak mulai senang dengan percakapan walaupun dalam bentuk dan kalimat yang sederhana. Di sisi lain, sikap egosentrik anak sangat menonjol. Seorang anak belum bisa memahami persoalan-persoalan yang dihadapinya dari sudut pemikiran orang lain dan anak cenderung melakukan sesuatu menurut kemauannya sendiri tanpa memperdulikan kemauan dan kepentingan orang lain. Contohnya, anak sering merebut mainan dari orang lain jika anak menginginkannya. Fase perkembangan anak usia dini Anak usia 3-4 tahun Pada umunya, anak pada fase ini masih mengalami peningkatan dalam berperilaku sosial, motorik, berfikir fantasi maupun kemampuan mengatasi frustasi. Pada kemampuan motorik, anak sudah menguasai semua jenis gerakan-gerakan tangan. seperti memegang benda atau boneka. Tetapi sifat egosentriknya masih melekat, Tingkat frustasi anak juga cenderung menurun. Ini disebabkan adanya peningkatan kemampuan dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang dialaminya secara lebih aktif atau sudah ada sifat kemandirian anak. Di usia ini anak memiliki kehidupan fantasi yang kaya dan menuntut lebih banyak kemandirian, dengan kehidupan fantasi yang dimilikinya, anak akan memperlihatkan kesiapannya untuk mendengarkan cerita-cerita secara lebih lama, atau bahkan anak juga sudah dapat mengingatnya satu per satu. Selanjutnya dengan sifat kemandirian yang dimilikinya mulai membuat anak tidak mau banyak diatur dalam kegiatan-kegiatannya, Pada aspek kognitif anak juga sudah mulai mengenal konsep warna, jumlah, ukuran dan lain-lain. Anak usia 4-6 tahun Ciri yang menonjol anak pada usia ini adalah anak mempunyai sifat berpetualang (adventuroussness). Anak seringkali memperhatikan membicarakan atau bertanya tentang apa yang ia lihat atau didengarnya. Memang ninatnya yang kuat untuk mengobservasi lingkungan benda-benda di sekitarnya membuat anak senang bepergian sendiri untuk mengadakan eksplorasi terhadap lingkugan disekitarnya. Pada perkembangan motorik, seorang anak masih perlu aktif melakukan berbagai aktivitas. Seiring dengan perkembangan fisiknya, anak makin berminat terhadap teman sebayanya. Salah satu tandanya anak sudah menunjukkan hubungan dan kemampuan bekerjasama dengan teman lain terutama yang memiliki kesenangan dan aktivitas yang sama. Untuk kemampuan lain yang ditunjukkan anak adalah anak sudah mampu memahami pembicaraan dan pandangan orang lain yang disebabkan semakin meningkatnya keterampilan berkomunikasi. Berdasarkan tahap perkembangan yang sudah di paparkan, dapat disimpulkan bahwa anak usia dini merupakan masa yang kritis dalam sejarah perkembangan manusia. Ini terjadi pada anak usia 0-6 tahun atau sampai anak mengikuti pendidikan pada jenjang pendidikan anak usia dini. Pada masa ini terjadi pertumbuhan fisik dan psikis yang sangat pesat. - See more at: http://kesehatangizianak.com/fase-fase-perkembangan-anak-usia-dini/#sthash.diylg5u6.dpuf

Teori perkembangan anak usia dini

Kali ini kita akan menyimak penjelasan singkat tentang teori perkembangan anak usia dini atau tahapan-tahapan perkembangan yang dilalui oleh anak pada masa usia dini. Usia dini merupakan usia pada tahap perkembangan preoprational thinking (sekitar usia dua sampai tujuh tahun), pendapat itu di sampaikan oleh Jean Peaget (1986) dalam buku “The Theories Of Learning”. Pada tahap pertama (1), anak sudah mulai dapat membentuk konsep-konsep sederhana. di usia itu (2-4th), anak mengklasifikasikan berbagai macam benda tertentu berdasarkan kemiripannya dan dengan tingkat kesalahan yang relatif tinggi. Contohnya menyebut semua lelaki adalah “ayah” (Hergenhahn & Olson, 2008:318). Pada tahap kedua (2)(usia 4 – 7th) anak mulai mampu memecahkan masalah-masalah secara intuitif, namun masih terlepas dari kaedah-kaedah logika. Contohnya; anak akan selalu menganggap genangan air yang lebih tinggi memiliki volume/isi yang lebih banyak tanpa mempertimbangkan luas lahannya. Bukan hanya itu saja, secara naturalistik anak juga mengalami perkembangan moral. Menurut Piaget dalam Hurlock (1991) membagi perkembangan moral menjadi dua tahapan, tahapan (1) moralitas pembatasan, kemudian (2) moralitas oleh kerjasama. Untuk perkembangan moral pada anak usia dini terletak pada tahapan pertama. anak hanya memandang peraturan sebagai bahan yang kaku dan belum bisa menilai makna aturan secara luas. Banyak anak memandang peraturan sebagai sesuatu hal yang abstrak tetapi menuntut. Itu sebabnya, sebuah peraturan dianggap sebagai konsekwensi atas apa yang Ia perbuat. Kohlberg dalam Faridah (2006) memandang perkembangan moral melalui 3 tahapan, sebagai berikut : moralitas prakonvensional moralitas konvensional pascakonvensional Pada anak usia dini perkembangan moral masih dalam lingkup prakonvensional (4-9 tahun) dengan ciri anak hanya tunduk pada aturan dari luar. Artinya, anak belum mampu memandang sebuah aturan berdasarkan nilai-nilai dan manfaat yang terkandung di dalamnya. teori perkembangan anak usia dini Pada tahap awal, tingkah laku anak cenderung dikendalikan oleh akibat fisik dari apa yang diperbuatnya. Mereka lebih memandang aturan sebagai larangan yang berdampak pada hukuman. Contohnya, anak tidak akan melawan orangtuanya sebab Ia takut akan dipukul (hukuman). Tahap selanjutnya, tingkah laku moral anak akan berubah dan dikendalikan oleh motivasi atau penghargaan yang akan diterima. Mereka sudah memandang aturan sebagai bentuk motivasi yang mengandung kemanfaatan. Contohnya, anak mau membantu orangtuanya sebab Ia ingin dipuji atau dibelikan hadiah. Teori perkembangan moral tersebut adalah hanya sebuah ungkapan yang bersifat eksperimental. Sebagai bentuk kecenderungan pada aspek mana yang dipilih (positif atau negatif) berada diluar garis-garis standar perkembangan anak. Oleh sebab itu kandungan moral selalu berkaitan dengan nilai-nilai yang mereka anut. Yang bisa diartikan ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat - See more at: http://kesehatangizianak.com/teori-perkembangan-anak-usia-dini/#sthash.VajDMxIC.dpuf